Rabu, 02 Juni 2010

Tinjauan Sosiologis Senja di Jakarta Karya Mochtar Lubis

Oleh Nila Rahma, Mahasiswa Program Studi Indonesia FIB UI

Novel Senja di Jakarta telah banyak diperbincangkan para pengamat sastra Indonesia. A. Teew (1980: 264-265) mengatakan bahwa novel ini merupakan karya Mochtar Lubis yang agung. Keberhasilan Mochtar Lubis dalam menggambarkan kebobrokan masyarakat lapisan bawah maupun atas sekitar tahun 1950-an sebelum pemilihan umum saat itu patut diacungi jempol. Dalam tulisan ini, saya ingin mempersoalkan latar belakang kehidupan Mochtar Lubis yang dihubungkan dengan novelnya, Senja di Jakarta.

Kritik ekspresif (expressive criticism) memandang karya sastra terutama dalam hubungannya dengan penulis sendiri. Kritik ini mendefinisikan puisi/karya sastra sebagai sebuah ekspresi, curahan atau ucapan perasaan, atau sebagai produk imajinasi pengarang yang bekerja dengan persepsi-persepsi, pikiran-pikiran, dan perasaan-perasaannya.

Seorang sastrawan tidak akan pernah terlepas dari pengalaman dan kondisi sosial-budayanya di dalam pelahiran karya-karya sastra. Segi sosiologis sastrawan inilah yang menjadi landasan misi segala jenis penciptaan. Sastrawan melahirkan karyanya berdasarkan pengalaman sosial–budayanya; kalaupun bukan dia sendiri yang mengalami, setidak-tidaknya ia menjadi saksi suatu kondisi sosial – budaya yang hidup dan dinamis.

Mochtar Lubis lahir di Padang, Sumatera Barat pada 7 Maret 1922 dan meninggal dunia pada 2 Juli 2004 pada umur 82 tahun di Jakarta. Ia pernah mengenyam pendidikan di Sekolah Ekonomi INS Kayu Tanam, Sumatera serta Jefferson Fellowship East and West Center, Universitas Hawai. Selain sastrawan, Mochtar Lubis adalah pengarang ternama asal Indonesia. Ia turut mendirikan Kantor Berita ANTARA. Mochtar Lubis juga mendirikan dan memimpin harian Indonesia Raya. Selain itu, majalah sastra Horizon juga didirikan olehnya bersama dengan kawan-kawan. Pada waktu pemerintahan rezim Soekarno, ia dijebloskan ke dalam penjara hampir sembilan tahun dan baru dibebaskan pada tahun 1966. Mochtar Lubis sering mendapatkan penghargaan seperti Magsaysay Award untuk jurnalistik dan kesusasteraan, Golden Pen Award dari International Association of Editors and Publishers, dan Hadiah Sastra dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional.

Mochtar Lubis menulis Senja di Jakarta pada saat ia dikenakan tahanan rumah oleh pemerintah Orde Lama. Awalnya, novel itu berjudul Yang Terinjak dan Melawan. Masa penulisan novel Senja di Jakarta diungkapkannya dalam Catatan Subversif sebagai berikut:

... Informasi tentang keadaan-keadaan politik selalu mengalir datang dari kawan-kawan. Saya juga sekarang telah mulai menulis roman saya yang diberi nama Yang Terinjak dan Melawan. Sekarang telah menjadi jelas dalam otak saya buku roman apakah yang akan saya tulis. Saya ingin melukiskan dalam roman keadaan sosial dan politik negeri kita. Betapa kehausan akan kekuatan, keserakahan dalam harta benda dan kekuasaan dalam menggunakan kedudukan partai telah menimbulkan kerusakan-kerusakan yang amat banyak di tengah-tengah masyarakat kita. Saya telah menulisnya dengan lancar dan mudah sekali meskipun saya tahu buku ini mungkin dalam masa lama belum akan diterbitkan di Indonesia, akan tetapi saya merasa dengan melukiskannya saya telah menyusun laporan yang perlu diketahui masyarakat kita kelak. (Lubis, 1987: 111-112)


Keadaan politik dan sosial di Indonesia yang kacau pada tahun 1950-an ingin disampaikan pengarang melalui novel ini. Carut-marut kondisi saat itu juga dapat diketahui dari buku-buku Sejarah, seperti Sejarah Nasional Indonesia Jilid IV: Zaman Jepang dan Pemerintahan RI (Notosusanto, 1975) dan Pertumbuhan, Perkembangan, dan Perkembangan Lekra di Indonesia (Ismail, 1972). Dengan demikian, dapat diartikan bahwa Senja di Jakarta muncul atas pengaruh keadaan ekonomi dan sosial di Indonesia yang kacau pada tahun-tahun tersebut. Mochtar Lubis yang dikenal sebagai wartawan sekaligus pengarang mampu memotret kegelisahan dirinya terhadap keadaan masyarakat melalui Senja di Jakarta.

Mochtar Lubis menggambarkan para manusia Indonesia lapisan atas dengan menghadirkan Suryono, Raden Kaslan, Husin Limbara, dan kawan-kawannya. Mereka seakan tak pernah puas pada hal yang telah miliki sehingga mereka bersama-sama melakukan korupsi. Melalui pendirian perusahaan-perusahaan fiktif yang akan menangani lisensi impor barang-barang kebutuhan pokok rakyat, mereka mengepul lembaran-lembaran uang. Sementara itu, Neneng, Saimun, Itam, dan Pak Ijo digambarkan sebagai manusia-manusia Indonesia yang sungguh setengah mati berjuang untuk bertahan hidup. Keputusan Neneng untuk melacurkan diri hanya untuk memperoleh sesuap nasi menjadi gambaran penting dalam potret kebobrokan akhlak manusia.

Kekhasan Mochtar Lubis yang juga mencerminkan seorangs wartawan adalah menyertakan Laporan Kota dalam beberapa bagian novelnya seperti berikut ini:

LAPORAN KOTA:
Malam itu seperti biasa juga. Malam ramai di pasar Glodok. Ribuan lampu listrik berkelip seperti kunang-kunang menari dalam malam. Lampu-lampu mobil bergerak, bola-bola mata kuning. Wangi makanan merangkak keluar dari restoran, berat di udara, serasa bisa dipegang, dan dimasukkan ke dalam mulut, dikunyah. Mereka berdua meneguk air liur. Sebesar kelereng meyumbat kerongkongan, dan kemudian mereka meludahkan bersama-sama, pecah di tanah dekat kaki mereka. (Lubis, 1981: 31)


Berita dan cerita hanya berbeda tipis. Peristiwa selama Mei 1956 hingga Januari 1957 yang menyangkut jatuhnya kabinet, sepak terjang partai, dan berita di media massa tak luput dari perhatian Mochtar Lubis untuk dituangkan dalam novelnya. Berbagai peristiwa dalam Senja di Jakarta merupakan reprensentasi dari semangat zaman saat itu. Baginya, tugas wartawan adalah mencatat dan menuliskan kejadian yang faktual secara objektif. Pandangan pribadi dan praduga wartawan tidak boleh masuk di dalam berita. Itulah sebabnya, beberapa karya fiksi Mochtar tidak sepenuhnya merupakan imajinasi, tetapi juga mengungkap babak kehidupan nyata yang pernah dialami.


DAFTAR PUSTAKA
Djoko Pradopo, Rahmat. 1994. Prinsip-prinsip Kritik Sastra Teori dan Penerapannya. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Hardjana, Andre. 1981. Kritik Sastra: Sebuah Pengantar. Jakarta: PT Gramedia.

Lubis, Mochtar. 1987. Catatan Subversif. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia dan PT Gramedia Pustaka Utama.

Lubis, Mochtar. 1981. Senja di Jakarta. Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya.

Senggono, Endo. 1985. Senja di Jakarta: Analisis Tema dan Tokoh secara Sosiologis. Skripsi tidak diterbitkan. Jakarta: Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Teeuw, A. 1980. Sastra Indonesia Baru I. Ende-Flores: Penerbit Nusa Indah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar